12 Desember 2009

Pembantu pemecah perawan

Meli (beda orang sih, tapi sama namanya) adalah salah seorang teman wanita saya.
Bukan good friend, sih. Cuman sekedar friend aja. Kadang-kadang, dia dan gerombolan
cewek-ceweknya hanging out di sebuah cafe bersama saya. Yah, kongkow-kongkow ngalor
ngidul.

Dia adalah salah satu temen wanita saya yang memilih jalan hidup yang ekstrim, yaitu
menjadi wanita panggilan alias bisyar alias pelacur.

Why did she choose to become prostitute? No one know. Dibesarkan dalam sebuah keluarga
middle-class, seharusnya dia tidak kesulitan didalam masalah finansial. So, alasan
klasik "butuh duit" kayaknya bisa dicoret. Ada teman saya yang bilang, maybe dia
tuh patah hati berat sehingga jadi begitu. Ada juga yang bilang dia hiperseks, dll.
Ga tau mana yang benar. Yang pasti, gue pernah pake dia dan memang OK. Hahaha...
Wajah lumayan dengan body yang OK. Hah...memang cukup pantas dengan harganya yang
bikin kantong tipis. Terakhir gue pake diberi gratis, soalnya temen dhewe. Hehehe.
Waktu pertama kalinya, gua kena biaya kenikmatan 500rb, sekitar 2 tahun yang lalu.

OK. Enough about the introduction.

Sore itu, begitu selesai kuliah, Meli langsung menuju keluar kampus, menunggu jemputan
dari supirnya. Dia sudah tidak sabar untuk kembali kerumah buat tidur. Malamnya dia ada
kencan dengan salah satu pelanggannya, seorang mahasiswa dari sebuah PTN di kotanya.

Setelah supirnya datang, dia lalu naik ke mobil dan langsung meminta supirnya untuk
mengantarnya kerumah dengan segera.
"Pak Yudi, tolong segera ke rumah ya. Saya capek banget.", pintanya dengan pelan.
"OK, Non. Sampeyan santai saja.", sahut supirnya.
Meli lalu memejamkan mata. Hm, supirnya ternyata ngebut. Terasa banget mobilnya
ber-"manuver" kekanan dan kekiri, diselingi oleh lengkingan klakson dari
kendaraan-kendaraan lain. Haha...Seru juga.

Setelah beberapa menit kemudian, sampailah Meli kerumahnya. Terlihat beberapa orang
masih sibuk bekerja. Orang tua Meli adalah seorang pengusaha mebel dan tak jarang
rumahnya dijadikan Workshop dadakan saat gudang tempat memproduksi barang sudah penuh.
Rumahnya kalau dibilang besar juga nggak, namun dibilang kecil juga nggak. Lumayanlah.
Garasi dan taman belakangnya yang sering dijadikan workshop dadakan ini untuk
memproduksi mebel.

Meli lalu segera menuju ke kamarnya dilantai dua dan segera mandi, membersihkan badannya
yang terasa penat. Setelah selesai mandi, dia segera merebahkan tubuhnya ke ranjang dan
tidur. Tak lupa sebelumnya dia menyetel jam weker agar berdering tepat pukul 18:00. Ada
pelanggan yang siap membayarnya nanti malam.

Setelah berapa lama dia tertidur, Meli sedikit tersadar. Matanya masih terpejam. Dia
merasakan dinginnya udara AC yang menerpa kakinya. Setelah beberapa detik kemudian,
kesadaran otaknya mulai pulih. Dia lalu bangun dan menuju ke lantai bawah untuk mencari
makanan, perutnya lapar.

Dibawah, ada tiga orang pekerjanya yang sedang asyik merokok dan mengobrol di taman belakang,
persis disebelah dapur. Begitu melihat Meli turun, mereka terus memandangi gadis amoy itu
tanpa berkedip sambil sesekali berbisik. Mali diam saja walau didalam hati dia merasa sebal.
Ketiga orang ini adalah mandor para pekerja, jadi mereka sering pulang telat/lembur.

Saat menuju ke dapur, Abdul, salah seorang pekerjanya sedang memasak mie instan.
"Mau makan, Non?", sapa Abdul.
"He eh. Laper.", sahut Meli singkat.

Didik yang tadinya sedang duduk di taman belakang lalu berdiri dan menuju ke lemari es.
Sewaktu melewati Meli, tangannya mencolek pantat anak majikannya ini sambil berkata, "Ih,
pantat kamu seksi banget, Non.".

DHIENG ! Sontak Meli melolot sambil menunjukkan jarinya kearah Didik, "Eh. Kamu jangan
kurang ajar ya. !". Didik ini memang dasar bandel. Diperlakukan begitu, dia tambah ingin
berbuat lebih jauh, "Ala non...Masa begitu aja kagak boleh. Situ kan udah pengalaman.",
ujarnya enteng. Abdul dan Soleh tertawa kecil mendengarnya.

Diliputi oleh amarah, Meli lalu membentak, "Apa maksudmu, Aku laporkan Papi baru tahu ya.
Kamu dan kalian semua bakal dipecat dan jadi pengangguran !".

"Lho..mau laporan? Aku juga nanti lapor ke Bapak kalo non ini ternyata Pelacur !"

GUBRAK ! Sebuah kalimat sederhana dari Didik, namun membuat Meli mati kutu. "Where the hell
that these morons know from?", pikir Meli.

"Heh. Sudah kurang ajar, berani ngomong yang ga karuan. Awas ya. Aku telepon Papi !", ancam
Meli. Dengan santai Didik lalu berkata, "Lho ya terserah Non. Aku juga nanti lapor gitu.".
Lalu dengan panjang lebar Didik bercerita bagaimana dia tahu kalau Meli ini bisa dibooking.

Meli langsung diam seribu bahasa.

Abdul lalu mendekat dan dengan usil dia menyenggol payudara Meli dengan sikunya.
"Ups. Sori. Kan udah biasa, Non.". Mereka bertiga lalu tertawa. Dengan menahan malu, Meli
lalu berlari meninggalkan mereka sambil menangis. Didik lalu berteriak, "Tenang Non. Rahasia
situ aman kok!".

Sejak saat itu, Meli sering sekali diusilin oleh mereka, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka
memegang kartu trufnya, yang kalau sampai dibongkar, dia bisa diusir dari rumah mengingat
Papinya adalah orang yang masih memegang budaya kuno yang kolot. Hm...

Beberapa minggu kemudian....

Meli melihat jam di dinding kamarnya. "Hm, masih pukul 3 sore.", pikirnya. Lalu dia memutuskan
untuk kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang dan meneruskan tidurnya.
Dasar. Sehabis pulang dari kuliah tadi, bukannya ganti baju malah langsung tidur. Hm...

Entah berapa lama kemudian, dia kembali terbangun dari tidurnya. Setelah kesadarannya pulih,
dia lalu membuka matanya. Waduh, betapa terkejutnya dia melihat Abdul didalam kamar. Yang
bikin dia tambah kaget adalah si Abdul lagi melepas celana panjangnya.

"Hei. Loe ngapain begitu?", pekik Meli.
Abdul kaget setengah mati, sampai dia hampir saja terjatuh sewaktu melepas celana panjangnya. Dia
lalu terpaku, tidak bisa berkata apa-apa.
"Keluar kamu, brengsek !", pekik Meli lagi.
"I-i-i-ya non. A-ku...", kata Abdul sambil terbata-bata, saking kagetnya.
"K E L U A R !!!!", teriak Meli. Tanpa banyak bicara, Abdul segera keluar kamar tanpa sempat
memakai kembali baju dan celananya.

Belum hilang rasa kaget Meli atas kehadiran Abdul yang "tak diundang" tadi , tiba-tiba terdengar
ketokan di pintu kamarnya dan tanpa sempat dia jawab, masuklah ketiga mandor pekerja ayahnya itu.
"Mau apa kalian?", ujar Meli dengan ketus. "Keluar, Cepat !".

Abdul yang berdiri disebelah Didik hanya menundukkan kepala. Soleh cuman diam saja, sedang Didik
yang sedang merokok menjawab, "Ala non. Kok judes banget sih.". Meli diam saja sambil menatap
tajam kearah Didik.

Didik lalu menutup pintu dan merogoh saku celananya. Setelah itu, dia mendekat kearah Meli dan
meletakkan segepok uang diranjang. "Tuh, non. Ada uang 600rb. Taripnya non kan?", ujarnya enteng.

"Nah, gimana? Beres kan. Daripada aku bicara ke Bapak, mending non mau saja. Toh saya kan bayar.",
ujar Didik sambil duduk ditepi ranjang. Meli tidak menjawab. Didalam hatinya berkecamuk dua
hal. Dia sama sekali tidak ingin melayani mandornya ini, namun dia juga takut kalo sampai
rahasia dia terbongkar.

"Hehe...Mau kan non? Saya pengen deh ama cewek kayak kamu. Pengen coba. Itu tuh duit hasil urunan
kami bertiga lho. Diambil dari Gaji bulan kami dari Bapak.", ujar Didik. Meli ingin sekali berkata
tidak (100%), namun bagimana jika Didik memakai "kartu truf" dirinya? Bingung 1000 keliling.

Selama beberapa menit, kesunyian melingkupi kamarnya Meli. Tak seorangpun berbicara. Diam seribu
bahasa. Sama-sama menunggu reaksi dari "lawannya". Didik terus menyedot dan mengepulkan rokoknya
dengan cepat, mungkin untuk menutupi kegelisahan dirinya.

Tak lama kemudian, Didik meletakkan rokoknya yang tinggal separuh ke meja riasnya Meli. Lalu dengan
pelan dia mendekati anak majikannya ini. Pelan2 dipegangnya tangan kanan Meli. Hm, no reaction.
Lalu pelan2 diciumnya pipi Meli. Hm...still no reaction. Meli just sit still. Didik lalu menarik
selimut yang dipakai Meli untuk menutupi tubuhnya. Nampak Meli masih memakai baju kuliahnya tadi
pagi, sepotong kaus ketat pink dengan lengan yang pendek. BH hitam yang dipakainya terbayang dibalik
kausnya itu. Pemandangan ini membuat ketiga mandor ayahnya tidak bisa mengedipkan mata.

Karena merasa tidak ada perlawanan, Didik lalu mulai menciumi leher Meli yang putih. Pertama dia
menciumnya dengan pelan, takut ada tamparan yang melayang. Namun sedikit demi sedikit, ciumannya
semakin dalam dan cepat. Tangan kanan Didik kemudian meraih payudaranya Meli dan meremasnya dengan
gemas. Meli mengaduh pelan, dadanya terasa sedikit nyeri.

Didik semakin kesetanan menciumi lehernya Meli. Dia lalu menempatkan Meli didepan pangkuannya dan
membiarkan wajahnya menatap ke punggung gadis ini. Dengan penuh nafsu, Didik lalu menggesek-gesekkan
penisnya di pantat Meli sambil kedua tangannya terus meremasi payudara Meli dengan gemas.
"Oh ya...sip...", erang Didik. Dia semakin erat memeluk Meli dan menggesek-gesekkan penisnya dengan
semakin cepat. Tak puas hanya dari luar, Didik lalu memasukkan tangannya ke balik kaus ketat gadis ini
dan meremasnya.

"Oh yap. sip...uh...enak non...Dul, rene-o koen. Jok meneng wae...", kata Didik sambil terengah-engah.
Abdul yang dari tadi mengamati pemandangan itu segera mendekat. Soleh hanya menonton sambil senyum-
senyum saja. Dia tetap didepan pintu kamarnya Meli. Mungkin tugasnya adalah untuk menjaga pintu. Haha...
kasian deh loe.

Dengan ragu-ragu, Abdul lalu menciumi bibir Meli. Meli diam saja sambil matanya menerawang. Lama kelamaan,
Abdul semakin berani dan melumat bibir indah Meli dengan penuh gairah. Dia lalu meraih tangan Meli yang
menempatkannya persis dipenisnya yang masih tertutup celana dalam saja. Pertama-tama dia yang membuat
gerakan mengkocok, tetapi lambat-laun Meli sendiri yang mengkocok penisnya. Abdul semakin terangsang dan
sekarang bisa fokus menikmati wajah dan leher Meli, bergantian dengan Didik. Sedangkan penisnya sudah
dikocok oleh Meli dengan cepat.

"ah...Ah...", desah Meli, gelagapan juga diserang oleh dua lelaki ini.

"uh...payudara non seksi sekali. ah...enak non.", erang Didik.
"Tenan ta?", tanya Abdul sambil mencari buah dada Meli dan lalu meremasnya berkali-kali. "Uh, tenan Di.
Kenyal banget. sip...", ujarnya serambi melumat bibirnya Meli. "Soleh, sampeyan gilirannya mengko wae ya.".
Soleh cuman tertawa kecil sambil terus menonton kedua temannya mengerjai anak majikan mereka.
Abdul lalu melepas CD-nya dan membiarkan Meli memegang penisnya yang sudah menegang. Meli lalu mengkocoknya
dengan cepat, membuat Abdul mengerang nikmat. Setelah beberapa detik dikocok, Abdul lalu mendekatkan penisnya
ke bibir Meli yang tipis itu, dan memaksanya untuk dikulum. Meli terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan
penis Abdul "menyetubuhi" bibirnya. Dia lalu menyedot penis itu dengan enggan.
"Oh ya. Enak non. Yang keras donk kalo sedot.", pinta Abdul. Meli diam saja sambil terus menyedot penis Abdul
didalam mulutnya.

Beberapa menit kemudian, Didik menghentikan gesekan penisnya yang di pantat Meli. Nampaknya dia hendak
ejakulasi sehingga ditahan dulu. Abdul yang tadi asyik dioral Meli juga lalu menghentikan
aktifitasnya. Didik lalu menarik tangannya dari balik kaus Meli dan berdiri dari ranjang.
Dia melepas seluruh pakaiannya sehingga telanjang bulat.

Didik kembali duduk keranjang dan menarik keatas kaus ketat yang dipakai Meli,
tak lupa juga mencopot BH hitam dan celana dalam hitam yang masih menutupi tubuh gadis berkulit putih ini.
Abdul terus menyaksikan "prosesi" pelepasan kaus tadi sambil mengkocok penisnya yang sudah menegang.

Soleh tertawa ringan, lalu berkata, "Wik, adekmu gedhe-men to Di.". Didik hanya menyeringai sambil berkata,
"Aku lak wis ngomong toh, leh. Mbah ***** kuwi pancen OK. Adek awak dhewe iki iso dipompa kayak ngene.".
Mereka bertiga lalu tertawa-tawa. Meli memang sempat terbelakak melihat besarnya penis dari Didik. Dari
informasi yang dia ceritakan, ukurannya sekitar 20an cm (Really?) dengan diameter diatas rata-rata.
Mengacung kayak pedang para Musketeers. Hahaha. Sedang ukuran penisnya Abdul normal-normal saja, cenderung
kecil.

"Dul, aku dhisik yo.", kata Didik sambil menahan nafsu. "We...Ora iso, Mas. Aku dhisik.", ujar Abdul dengan
cepat. Mereka lalu bertengkar kecil sendiri. Meli hanya diam saja sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan
kedua tangannya. Dia ingin sekali menolak, namun sekarang ada perasaan berbeda yang melingkupi pikirannya.

Akhirnya, biar segera ada keputusan, mereka lalu setuju suit. Satu-dua-tiga, dan Didik yang menang. Hehehe...

Dengan senyum kemenangan, didik lalu menarik kedua tangan Meli dan merebahkan tubuh gadis amoy ini keranjang.
Dia lalu segera menindihnya. Dia menciumi bibir dan leher Meli dengan penuh nafsu. Meli hanya bisa pasrah
sambil matanya menerawang. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

Tak membuang waktu lagi, Didik lalu memposisikan penisnya yang - wow - itu kedepan lubang vagina Meli dan mulai
menusuknya. "Ah...", tubuh Meli tersentak kedepan saat penis Didik membelah liang vaginanya.
"Uh...Sakit mas!", iba Meli. Didik memandang sebentar wajah Meli yang meringis menahan sakit, lalu tanpa ampun
dia meghunjamkan seluruh batang penisnya kedalam vagina Meli.

"Aduh....ahhhhh !", erang Meli kesakitan. Tubuhnya tersentak kedepan dengan cepat. Walaupun vaginanya sering
"dipakai", namun baru kali ini dia mendapat serangan rudal yang cukup besar. Didik merem-melek merasakan
sensasi kenikmatan yang luar biasa. Lalu dia segera mengkocok penisnya di vagina Meli dengan cepat. Kedua
tangannya yang hitam pekat itu memeluk tubuh gadis ini dan bibirnya terus melumat lehernya Meli.

"Aduh mas...sakit mas. Pelan-pelan...auh...", erang Meli lagi. Tangan Meli memegang paha Didik, berusaha
menahan "serangan" lelaki ini agar tidak terlalu dihunjamkan kedalam vaginanya. Didik sebenarnya kasihan juga,
namun rangsangan seksual yang dia rasakan menutup iba-nya. Tubuh Meli nampak terguncang kedepan dan kebelakang
dengan cepat. Bunyi gesekan penis dengan vagina terasa sangat menggoda. Abdul terus mengkocok penisnya sambil
memandangi temannya yang sedang menyetubuhi anak majikan mereka ini.

"Ah...C*k, uenak tenan, memeknya, c*k. Ah...ya. yap...sip...", ujar Didik penuh nikmat, disertai sedikit
umpatan "tradisional"-nya. Meli terus menutup matanya menahan sakit. Akhirnya, beberapa menit kemudian, Didik tak
kuasa menahan ejakulasinya.

"Sip...aku metu non...sip...". Dengan hunjaman terakhir kearah vagina Meli, penis Didik menyemprotkan seluruh
sperma yang ada kedalam liang kewanitaannya. Terlihat tubuh Didik bergetar, matanya tertutup setengah, merasakan
sebuah kenikmatan yang luar biasa, menyerbu saraf-saraf otak dan tubuhnya.

Setelah puas, dia lalu mencabut penisnya, disertai dengan sebuah rintihan pelan dari Meli. Terlihat spermanya
meleleh keluar dari dalam liang vagina gadis malang ini. Didik lalu merebahkan tubuhnya disamping Meli sambil
mencium bibirnya. Meli langsung membuang muka. Didik cuman terkekeh melihatnya.

Abdul lalu menarik turun Didik sambil berkata, "Wes. Saiki aku rek.". Lalu dia dengan cepat menindih kembali
gadis amoy itu dan memasukkan penisnya kedalam vagina Meli. Dia lalu mulai mengkocok penisnya dengan cepat.

"Lho...kok longgar begini. J*nc*k. Mestinya aku dhisik, sak durunge sampeyan mas.", omel Abdul sambil
sementara menghentikan kocokan penisnya. Soleh dan Didik cuman tertawa lebar mendengarnya. Meli hanya bisa
pasrah, membiarkan tubuhnya dinikmati oleh kedua mandor Bapak-nya ini.

Abdul kemudian kembali mengkocok penisnya. Diangkatnya kedua lengan Meli lalu diciuminya ketiak Meli dengan
penuh nafsu. "Uh..ketiaknya seksi, rek.", ujarnya penuh nafsu. Lagi-lagi ucapannya itu membuat Soleh dan
Didik tertawa lebar.

Untuk lebih menikmati tubuh gadis ini dengan lebih baik, Abdul lalu memegang kepala Meli dan menciumi bibirnya
sambil terus membiarkan penisnya menikmati beceknya liang vagina Meli. Mereka terus berciuman bibir dengan
penuh nafsu. Meli nampaknya melayani ciuman ini, karena kedua tangannya sekarang memeluk tubuh Abdul dan
membiarkan dirinya disetubuhi.

Setelah kira-kira lima menit kemudian, Abdul melenguh dan berkata. "OH...aku meh metu non.". Mereka lalu
kembali berpelukan dan berciuman bibir dengan panas. Tak lama kemudian, Abdul menyemprotkan spermanya kedalam
vaginanya Meli. Sewaktu mengalami ejakulasi, dia terus menciumi bibir Meli sambil tangannya meremas payudara
gadis itu. Tubuhnya tersentak kedepan beberapa kali, menyemprotkan benih dirinya ke liang rahim anak majikannya.
Setelah puas, Abdul lalu melepaskan pelukan dan ciumannya, mencabut penisnya dan merebahkan tubuhnya keranjang,
melepaskan kepenatan tubuhnya.

Tak lama kemudian, Abdul dan Didik segera berpakaian, membiarkan Meli bugil diatas ranjang, kelelahan dan
penuh keringat.

"Makasih non. Lain kali kita begini lagi ya...", ujar Didik yang disambut tawa kedua temannya. Meli diam saja.
Ketiganya lalu pamit dan keluar kamar dengan perasaan puas.

Meli hanya diam. Dia lalu bangun dari tempat tidur. Diambilnya tissue dan dengan cekatan dia membersihkan
vaginanya dari lelehan sperma lelaki yang telah menikmati tubuhnya. Setelah itu, dia mengambil uang 600rb yang
tadi diberikan oleh mandornya.

Dia memandangi uang-uang tersebut, pecahan 100rb sebanyak 6 lembar. Setelah merenung selama beberapa waktu,
akhirnya dia memasukkan uang tersebut kedalam dompetnya, bangun dari tempat tidur dan hendak menuju ke kamar mandi
untuk membersihkan badan.

"Aduh..", rintihnya pelan. Oh, Vaginanya terasa sakit dan perih. Setelah dia periksa dengan cermat, Meli melihat
bahwa vaginanya memerah dan ada bercak darah. Hm...Nampaknya vaginanya terluka. Dengan menahan sakit, dia lalu
berjalan tertatih-tatih kekamar mandi dan mulai membersihkan dirinya.

Keesokan harinya....

"Lho...Kamu kenapa, Mel. Kok jalannya begitu?", tanya ayahnya dengan heran melihat putrinya berjalan dengan
sedikit aneh.
"Ga papa, kok. Kaki aku kram, sehabis senam kemarin.", ujarnya singkat.
"Oh. Begitu.", sahut ayahnya.

Sewaktu dihalaman depan, dia berpapasan dengan Didik yang sedang mengangkut kayu.
"Pagi, Non.", sapanya sopan. Meli tidak menjawab dan hanya melengos saja.
"Jalannya kok gitu. Sakit ya? Entar kapan-kapan saya pelan2 deh.", goda Didik lagi, disambut tawa Abdul dan
yang ternyata ada dibelakang mereka.

Meli tambah kesal, lalu dengan cepat dia menaiki mobil dan memacunya ke kampus.